Rabu, 03 Februari 2010

Eksotisme Pulau Sumba

Saya selalu menikmati tugas ke daerah untuk pekerjaan lapangan, karena bisa bekerja sambil mengenali masyarakat dan budaya lokal. Awal 2008 saya ditugaskan kantor ke Pulau Sumba. Saya beruntung punya teman sekelas waktu kuliah di Jogja yang sekaligus menjadi counterpart saya untuk urusan pekerjaan itu. Perfect! Di sela-sela pekerjaan, dia dengan senang hati mengantar saya ke Kampung Merapu, kampung asli orang Sumba. Tidak perlu membayar guide, dia sangat menguasai sejarah dan budaya Sumba.



Rumah adat yang unik dan kubur batu megalitikum

Di kampung asli dapat dijumpai rumah adat Sumba. Atap rumah yang berbahan rumput ilalang kebanyakan menjulang tinggi. Ketinggian atap menunjukkan strata pemiliknya dalam adat. Aturan ini dijaga ketat hingga sekarang. Walaupun orang kaya, tetapi bila stratanya dalam adat rendah, mereka tidak boleh memiliki atap rumah yang menjulang. Uniknya, dapur dalam rumah sumba berada di bagian tengah. Di lingkungan rumah adat terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik yaitu kubur batu yang sudah berusia ratusan atau mungkin ribuan tahun.

Jadwal penerbangan yang aneh

Saya masuk ke Sumba Barat melalui Bandara Tambolaka. Penerbangan dari Bandara Tambolaka ke Bandara maumere di pulau Flores sudah confirmed. Tapi sehari sebelum jadwal, pagi-pagi saya ditelpon pihak airlines bahwa jadwal penerbangan yang sudah saya pesan dibatalkan. Airlines menawarkan untuk terbang hari itu juga dari Bandara Waingapu di Sumba Timur. Untuk itu saya harus melakukan perjalanan darat melintasi Pulau Sumba selama sekitar empat jam mengejar penerbangan pukul 14.00. Keanehan jadwal penerbangan ternyata masih berlanjut. Karena alasan teknis ternyata pilot tidak mengarahkan pesawat ke Bandara Maumere, tetapi dialihkan ke Bandara Eltari Kupang di pulau Timor dan para penumpang diinapkan semalam di hotel di kota Kupang. Baru keesokan harinya para penumpang tujuan Maumere di terbangkan. Jadwal penerbangan yang saya pesan adalah Tambolaka – Maumere (direct) tetapi kenyataannya menjadi Tambolaka – (via darat) Waingapu – Kupang – Maumere. What a terrible flight schedule! Tapi tidak rugi juga karena bisa menikmati pemandangan alam Sumba, terutama sabana yang membentang luas.





Kredit foto http://sumbaisland.com/
(Dokumentasi selama perjalanan di Sumba hilang gara-gara disimpan di bagasi)

Senin, 01 Februari 2010

Mekong Fish

Satu hal yang membuat saya terkesan dengan Luang Prabang, kota kuno di tepi sungai Mekong, Laos - adalah ikan sungai (fresh water fish). Di pasar tradisional sangat mudah mendapatkan pedagang yang menjual ikan sungai segar. Di tepi jalan, pedagang kaki lima banyak menjajakan ikan bakar air tawar. Di restoran dan hotel, menu makanan berbahan ikan air tawar selalu tersedia. Luang Prabang adalah surga bagi pencinta masakan ikan air tawar. Sementara itu, tidak seperti negara ASEAN lainnya, seafood adalah barang yang sangat mahal karena negara ini tidak memiliki laut.

Bila di Pekanbaru ada rumah makan/ restoran yang di label dengan jenis ikan tertentu misalnya Pondok Patin atau Pondok Baung, tidak demikian dengan Luang Prabang. Di sana mereka lebih suka melabel dengan Mekong Fish Restaurant saja. Demikian juga dengan daftar menu, kita akan menemukan nama makanan seperti ini: Fried Mekong Fish, Steamed Mekong Fish, Grilled Mekong fish...apa pun makanannya mekong fish namanya (seperti iklan teh...).

Kebanyakan ikan yang ada sangat mirip dengan ikan-ikan air tawar di Riau dan Sumatera umumnya, ada yang mirip patin, belida, kepiat. Saya penasaran untuk mengetahui nama-nama ikan itu dalam bahasa lokal. Herannya, setiap saya bertanya dan untuk ikan jenis apa saja, jawabannya selalu "mekong fish!"....

Saya :"What type of fish is that?"
Mereka: "Mekong fish!"

Sungai Mekong

"Mekong Fish" segar

Ikan Bakar Kaki Lima

Karena ikan air tawar di Luang Prabang sangat melimpah, kadang saya curiga apa benar semuanya ditangkap dari Sungai Mekong? Sepertinya sebagian adalah hasil budidaya di kolam. Walaupun dipelihara di kolam, namanya tetap Mekong Fish...

Jumat, 29 Januari 2010

Menemukan "Kuala Lumpur"



Menara Kembar Petronas mungkin menjadi daya tarik utama bagi pengunjung Kuala Lumpur. Tidak banyak orang yang tertarik untuk mengetahui asal muasal nama Kuala Lumpur. Bagi saya yang dibesarkan di daerah aliran sungai Kuantan, Sumatera - sangat familiar dengan nama-nama tanjung, teluk dan kuala. Saya yakin nama Kuala Lumpur pastilah berhubungan dengan "kuala" atau pertemuan anak sungai dengan sungai yang lebih besar. Dimana kuala itu berada? Dari hasil pencarian, baca sana-sini, saya menemukan bahwa Sungai Gombak merupakan sebatang sungai yang mengalir melalui Selangor dan Kuala Lumpur di Malaysia. Ia merupakan anak Sungai Kelang. Tempat di mana ia bertemu dengan Sungai Kelang (dalam bahasa melayu di sebut kuala) merupakan asal nama Kuala Lumpur.

Pertemuan Sungai Kelang dan Sungai Gombak berada di belakang Sultan Abdul Samad Building. Di sinilah kegiatan pertambangan biji timah bermula di Kuala Lumpur, yang menjadi titik awal pertumbuhan kota ini.

Selain Sultan Abdul Samad Building, cukup banyak landmark kota Kuala Lumpur di sekitarnya, seperti Masjid Jamek Kuala Lumpur, Stesen Kereta api Tanah Melayu (KTM)dan cukup dekat juga dengan Central Market serta Litle India (Jalan Tun Sambanthan). Bagi saya, kawasan titik awal kota Kuala Lumpur ini merupakan bagian yang terpenting untuk dikunjungi bila melancong ke sana.

Senin, 25 Januari 2010

Tumbuhan Liar di Belakang Rumah

Hanyalah tumbuhan liar di semak-semak belakang rumah di Batu Gajah, nun jauh di sana di perut pulau Sumatera. Semasa kecil, memetik dan memakan buah karamunting, keduduk dan nasi-nasi di pinggir rimba adalah salah satu kegiatan mengasikkan bersama teman-teman sepermainan di kampung. Setelah hidup di tengah hutan beton seperti Jakarta, kenangan itu menjadi daya tarik untuk pulang ke kampung halaman.

Saat ini mungkin tumbuhan seperti ini sudah mulai langka. Mungkin dianggap tidak bernilai ekonomi, atau malah dianggap sebagai gulma pesaing hara di kebun kelapa sawit atau getah. Sayang sekali tumbuhan seperti ini harus punah. Banyak tumbuhan kita yang belum dieksplorasi secara optimal. Mungkin saja tanaman-tanaman itu mengandung senyawa obat yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan kemanusiaan dan pengembangan industri hayati yang bernilai ekonomi tinggi.

Tumbuhan khas tropis seperti ini mungkin juga menjadi obyek yang menarik bagi pelancong pencinta alam dari mancanegara terutama dari negara-negara non tropis. Mungkin sama seperti orang Indonesia ingin melihat bunga sakura bermekaran di Jepang.

*****

Karamunting( Rhodomyrtus tomentosa W. Ait.), Bunga

Karamunting, Buah

Nasi-nasi (Symplocos fasciculate)

Keduduk (Melastoma malabathricum), Bunga

Keduduk, Buah

Catatan: gambar ilustrasi bersumber dari http://www.flickr.com

Jalur Koleksi Anjungan Riau TMII

Pacu Jalur merupakan salah satu tradisi di Kabupaten Kuantan Singingi. Pacu Jalur adalah sejenis lomba dayung yang menggunakan Jalur, sejenis perahu yang berukuran sangat panjang. Seperti yang ditulis di Pacu Jalur Khasanah Budaya Kuantan Singingi, jalur dibuat dari batang kayu utuh tanpa sambungan dengan panjang jalur antara 25--30 meter, dengan lebar pada bagian lambung tengah 1,25 - 1,5 meter.

Tempat terbaik untuk menyaksikan Jalur tentu saja di Kabupaten Kuantan Singingi tempat Jalur ini berasal, terutama saat penyelenggaraan Pacu Jalur, festival tahunan dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan RI. Bagi blogger yang belum berkesempatan mengunjungi Kabupaten Kuantan Singingi, dapat menyaksikan keunikan Jalur di Anjungan Riau di Taman Mini Indonesia Indah. Berikut ini gambar Jalur koleksi TMII:

Rumah Jalur, tempat menyimpan Jalur.

Haluan, detail talingo (telinga)dan nama Jalur


Selembayung, pada bagian kemudi


Minim Informasi
Seperti kebanyakan koleksi TMII, koleksi Jalur ini juga sangat minim informasi. Koleksi ini hanya menjadi seonggok benda bisu yang tak dapat bercerita tentang dirinya. Saya menyaksikan sendiri pelancong Malaysia yang sepertinya tertarik dengan Jalur yang unik, tapi mereka bertanya-tanya sesama mereka tanpa tahu harus mencari informasi ke mana.

Alangkah baiknya bila Pemerintah Provinsi Riau atau Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi mengadakan panel informasi yang menceritakan tentang Jalur dan Tradisi Pacu Jalur. Saat berkunjung pada Liburan tahun baru 1 Januari 2010, kami malah disuguhi Orkes Dangdut. Saya sama sekali tak paham, apa hubungan Orkes Dangdut dengan promosi Budaya & Pariwisata Riau. Menurut saya, lebih baik dana untuk nanggap Orkes Dangdut itu dimanfaatkan untuk (misalnya) mengadakan panel informasi.

Jumat, 15 Januari 2010

Gulai Cipuik

Pertama kali mengunjungi Ha Noi akhir tahun 2007, bersama teman-teman peserta workshop dari negara-negara ASEAN kami dijamu makan malam di Restoran Vietnam oleh panitia. Menu yang paling berkesan bagi saya adalah Vietnamese Escargot. Masakan ini berbahan baku daging siput cincang yang dicampur bumbu dan dibungkus dengan sehelai kecil daun beraroma (saya sudah agak lupa, mungkin serai wangi), kemudian disumbatkan kembali ke cangkangnya dan dikukus. Saya pikir cara pengolahan seperti itu membuat aroma siput tertutupi tetapi rasanya tetap original.

Siput yang digunakan di Vietnam berukuran lebih besar dari siput sawah tapi lebih kecil dari keong emas (seukuran sekitar 3 butir kelereng) dan berwarna hitam kecoklatan.

Escargot [baca ɛskaʁɡo], merupakan bahasa Perancis untuk siput, juga untuk menyebut masakan Perancis yang terbuat dari siput. Mengingat Vietnam pernah menjadi jajahan Perancis, saya menduga Vietnamese Escargot merupakan adaptasi Escargot a la Perancis dengan menggunakan siput dan bumbu lokal Vietnam.

Vietnamese Escargot

Menjadi menu restoran dan hotel berbintang...

...juga dijajakan di kaki lima

Menikmati Vietnamese Escargot di Ha Noi, membuat saya bermimpi Gulai Siput Kuantan 'made in' kampung saya menjadi menu Hotel dan Restoran atau setidaknya di Rumah Makan di kota kecil Teluk Kuantan. Mungkin orang Eropa akan menyebutnya Kuantanese Escargot??? Gulai Cipuik juga keren kok.

Gulai Siput Kuantan

Gulai cipuik a.k.a gulai siput Kuantan Siput dibuat dari siput sawah.Ukurannya kira-kira seukuran biji kelereng hingga lebih besar sedikit dari kelereng. Di Kabupaten Kuantan Singingi siput biasanya ditangkap di sawah pada musim kering atau saat curah hujan tidak terlalu tinggi. Pada puncak musim hujan saat sawah tergenang banyak air agak sulit untuk menangkap siput. Siput segar (umumnya dalam keadaan masih hidup) bisa ditemukan di pasar tradisional di Kabupaten Kuantan Singingi, dijajakan oleh ibu-ibu di emperan pasar.

Siput dimasak dengan kuah berbumbu pedas ‘sedang’ dan santan yang tidak terlalu kental. Biasanya siput dimasak bersama salah satu sayur pelengkap (dalam bahasa lokal disebut rampai) seperti kacang panjang, pucuk daun keladi, terung asam, atau pakis (paku). Rasanya? kenyal dan seru. Seru, karena untuk memakannya perlu usaha ekstra. Daging siput disedot (di-slurup) hingga terlepas dari cangkang. Bila makan bersama, suara sedotan membuat suasana makan menjadi ramai oleh suara sedotan yang bersahutan. Agar mudah disedot bagian belakang cangkang dilubangi terlebih dahulu sebelum dimasak.

Bagi kawan blogger yang ingin mencoba makanan ini, saya rekomendasikan untuk tidak mencarinya di rumah makan, setahu saya makanan yang satu ini belum menjadi menu rumah makan. Makanan ini hanyalah menu rumahan keluarga Kuantan. Untuk menikmatinya kita harus mengunjungi keluarga Kuantan. Bila berkunjung ke Kabupaten Kuantan Singingi, anda bisa kontak kawan blogger dari Kuansing Blogger Community, mereka akan dengan senang hati menjamu anda dengan gulai siput.

A River Cruise Along the Chao Phraya River

Ketika melakukan perjalanan ke luar negeri, sungai merupakan top list yang harus saya kunjungi, walaupun harus mencari waktu disela-sela pekerjaan.

Chao Phraya merupakan bagian Thailand yang paling menarik bagi saya. Thailand yang sedang giat membangun, tetap menjaga Chao Phraya sebagai identitas dan sejarah bangsa Thai. Chao Phraya tetap menjadi urat nadi transportasi publik, transportasi barang dan menjadi obyek wisata. Lalu lintasnya cukup ramai, namun teratur.

Menyusuri Chao Phraya merupakan bagian dari paket wisata kota kuno Ayutthaya. Atau sekedar menikmati makan malam di restoran terapung sambil menikmati suasana malam Kota Bangkok secara lebih beradab (bagi yang suka dengan night life yang 'liar' tentu ini bukan pilihan yang tepat).

Menyusuri Chao Phraya dengan Grand Pearl Cruise, membuat saya merindukan Kuantan (Indragiri), Kampar, Siak dan Rokan yang merupakan sungai utama di Provinsi Riau. Perjalanan itu membuat saya bermimpi sungai-sungai di kampung halaman bisa dikembangkan lebih maksimal, sebagai pendukung ekonomi rakyat, melestarikan sejarah dan identitas riverine culture yang telah diwariskan oleh leluhur. Tak ada salahnya belajar dari bangsa lain

Bus Air, Moda Transportasi Publik di Bangkok


Budhist Temple yang indah banyak menghiasi tepian Chao Phraya


Masjid pun ikut mewarnai


Kampung tradisional tetap bertahan, tapi kebersihan dijaga


Dermaga Kapal Wisata (Cruise)


Makan siang di Cruise