Minggu, 18 September 2011

Lesehan

Lesehan (dari bahasa Jawa) pada mulanya adalah suatu budaya dalam hal memperjualbelikan makanan atau barang sembari duduk di tikar/lantai. Makanan atau barang yang diperjualbelikan turut digelar pada saat lesehan sehingga pengunjung bisa melihat, memilih dan menikmatinya dengan santai. Budaya Lesehan yang sangat terkenal di Indonesia adalah di daerah Yogyakarta.

Warung lesehan Yogyakarta pada awalnya hanya karena alasan pragmatis, memanfaatkan kaki lima untuk berdagang makanan tanpa perlu mengeluarkan modal yang besar untuk membangun warung, cukup dengan membentangkan tikar di kaki lima maka jadilah "warung" lesehan. Di kawasan Malioboro kaki lima pada siang hari digunakan untuk menjual cenderamata kemudian malam hari disulap menjadi warung lesehan. Belakangan warung lesehan beroperasi juga siang hari.

Konsep lesehan memang cocok digunakan untuk warung/ rumah makan yang menyajikan makanan tradisional nusantara. Makan dengan cara duduk bersila di tikar/lantai merupakan cara makan yang umum bagi masyarakat Nusantara. Tak jelas, apakah warung/ rumah makan lesehan yang berkembang belakangan terinspirasi dari lesehan a la Malioboro, namun tak dapat dipungkiri Kawasan Malioboro di Yogyakarta sudah menjadi sentra kuliner malam hari sejak berpuluh tahun yang lalu turut mempopulerkan style ini.

Konsep lesehan ini berkembang tidak hanya digunakan oleh warung kaki lima, tetapi digunakan juga oleh rumah makan yang menyajikan makanan tradisional. Sebagai tempat makan dipilih bangunan berbentuk gubug (Jawa) dan saung (Sunda). Aslinya gubug dan saung merupakan tempat berteduh di sawah, kemudian sangat cocok digunakan untuk rumah makan berkonsep lesehan, terutama yang dipadukan dengan alam.

Di Lombok, yang terkenal dengan kuliner Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung, rumah makan lesehan menggunakan berugak. Berugak adalah salah satu jenis bangunan dalam rumah tradisional suku Sasak di Lombok. Rumah tradisonal Sasak biasanya terdiri dari rumah tempat tinggal yang disebut Bale Tani, Lumbung untuk menyimpan padi dan Berugak. Berugak adalah sebuah bangunan panggung berbentuk segi empat yang tidak memiliki dinding, tiangnya terbuat dari kayu atau bambu beratapkan alang-alang, dan disangga oleh empat tiang (sekepat), atau enam tiang (sekenem). Berugak berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu (karena alasan privasi orang Sasak tidak menerima tamu di rumah utama), dan juga digunakan sebagai tempat untuk berkumpul, berbincang-bincang serta bersantai selepas bekerja. Biasanya Berugak terdapat di depan samping kiri atau samping kanan Bale Tani.

Di Banjarmasin saya pernah makan di Waroeng Pondok Bahari, juga dengan konsep lesehan. Menariknya, rumah makan ini menempati rumah panggung era 50an/ 60an. Rumah tinggal yang pada eranya merupakan tipikal rumah orang berpunya ini, di banyak tempat umumnya sudah dibongkar dan digantikan oleh bangunan baru. Makan di rumah makan ini seperti sedang pulang ke rumah nenek. Suatu kemampuan pemilik ide mengeksplorasi keunikan daerahnya. Ide yang benar-benar orisinil.

Sayangnya, di banyak tempat di Indonesia konsep lesehan ini hanya copy - paste saja dari apa yang ada di Pulau Jawa. Beberapa bulan yang lalu saya travelling ke Sumatera Barat dan Riau. Ternyata warung lesehan sekarang juga menjamur di sana, tapi hanya sekedar meng-copy warung lesehan di tempat lain, bahkan juga menggunakan istilah 'warung lesehan'. Padahal bila sedikit lebih cerdas, mereka bisa mengeksplorasi tradisi dan keunikan sendiri. Di Payakumbuh saya melihat banyak rumah tradisional dengan atap bagonjong terbiar melapuk tak dihuni, sementara di halamannya berdiri 'warung lesehan'.

Sabtu, 17 September 2011

Dunia anak-anak adalah dunia bermain.

Sejak bersiap menjadi ayah, salah satu bacaan yang saya minati adalah buku dan artikel tentang parenting. Dalam perjalanannya saya menemukan anak-anak adalah juga buku tempat tuhan mengajarkan teori parenting kepada kita.

Dari anak pertama saya belajar "main tebak-tebakan"...

Sejak belum bisa membaca, bahkan seingat saya sejak dia belum lancar berjalan, gadis sudah kutu buku. Setelah bisa membaca pada usia 4 tahun, gadis semakin gila buku.
Waktu mudik lebaran (ketika itu gadis berusia 5 tahun) kami kehabisan bahan bacaan untuk si kutu buku ini, sementara tidak mudah mendapatkan bacaan anak di kampung. Beberapa buku sepupunya yang sudah ABG terpaksa diseleksi yang cocok untuk si sulung. Salah satunya adalah buku “tebak-tebakan”.

Rupanya gadis sangat terkesan dengan buku tebak-tebakan itu. Sekembali ke Jakarta dia minta buku yang sama. Karena di rumah tidak ada buku jenis itu, saya meminta gadis untuk mengerjakan latihan soal untuk kelas 1 yang ada di majalah anak-anak. Tak disangka, gadis menyukai kegiatan latihan soal itu. Gadis menyebut latihan soal itu sebagai 'main tebak-tebakan". Main tebak-tebakan itu berlanjut hingga SD. Mengerjakan latihan soal atau PR bagi gadis bukan belajar, tapi main tebak-tebakan.

Dari anak kedua saya belajar "main angka"...

Anak kedua kami menyukai “main angka” sejak mulai diperkenalkan konsep bilangan dan simbol angka di Taman Kanak-Kanak. Yang dia maksud dengan main angka adalah menulis angka di tembok, lantai, daun pintu, kaca jendela, bahkan lemari. Walaupun disediakan alat tulis, media favoritnya menulis adalah tembok, dan alat tulis favoritnya adalah spidol. Coretan didinding berkembang sejalan dengan pemahamannya terhadap fungsi penjumlahan, pengurangan dan perkalian. Awalnya hanya menuliskan simbol angka, kemudian coretan di dinding berkembang menjadi penjumlahan dan pengurangan. Kami membiarkan tembok rumah penuh coretan, baru di cat ulang setelah bujang kelas 2 SD. Sekarang bujang menyenangi pelajaran matematika, yang bagi dia adalah main angka. Bahkan dia menciptakan sendiri istilah "main angka"

Main restoran-restoranan

Belajar dari mereka, untuk mengurangi makan di luar rumah saya mengajak anak-anak main restoran-restoranan. Mereka adalah pemilik restoran (yang notabene adalah ruang makan di rumah kami), dan mereka yang menentukan menu, kadang mereka juga ikut memasak. Mereka menikmati kegiatan ini, dan kami berhasil mengurangi frekuensi makan di luar.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Kata "main" seperti kata magis bagi anak-anak. Anak-anak melakukan apa pun tanpa beban bila bagi mereka itu adalah "bermain".

Rabu, 14 September 2011

Sambung Menyambung Menjadi Satu (1)

Ini tentang sesuatu yang biasa saja tapi cukup mengesankan; dokumentasi dari perjalanan dinas dalam rangka pengawasan Pendataan Sapi Potong Sapi Perah dan Kerbau (PSPK 2011) pada tanggal 16 Juni 2011.

Sapi Bali (Bos sondaicus) adalah sapi hasil penjinakan (domestikasi) banteng liar yang telah dilakukan sejak akhir abad ke 19 di Bali.

Sapi Bali pada foto di bawah ini dipelihara oleh transmigran asal Jawa di District Oransbari Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Foto ini hasil jepretan Pak Ngah yang berasal dari Sumatera...sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.

Selasa, 09 Agustus 2011

My First Office



Tempat Kejadian Perkara: Desa Bukit Lipai;
Kecamatan Batang Cenaku; Kabupaten Inderagiri Hulu; Provinsi Riau(trust me! you can't find this place in map...)

Dalam hidup ini banyak mimpi kita yang diwujudkan oleh Tuhan, tapi kadang kita harus melalui jalan yang tak direncanakan.

Lebih setahun saya melalui hidup di sini, in the middle of no where, I started my career here as a field veterinarian, mix practices, serving rural smallholder farmers.

Walau pernah merasa banyak waktu yang terbuang di tempat ini, fasilitas yang sangat minim, karir yang tak jelas, penghasilan yang tak memuaskan, tapi dengan berjalan waktu, capaian-capaian saat ini, pada akhirnya menyadari bahwa banyak pengalaman berharga didapatkan disini.

Tempat ini menjadikan perjalanan karir saya sebagai dokter hewan terasa lengkap, dari PUSKESWAN sebagai baris terdepan pelayanan kesehatan hewan di lapangan hingga ke pusat National Veterinary Services.

Selasa, 23 November 2010

Kerupuk Kuah

balik kampung berhari raya
penghujung Ramadhan 1431 hijriah
menunjukkan kepada anak bujang dan dara
dua versi kerupuk kuah
kuah sate dan kuah sambal sama pedasnya

kepada mereka aku bercerita
inilah jajanan ayah
masa kanak-kanak bersekolah
Di SD lima Batu Gajah

membuat kerupuk pun mereka coba
hati senang alang kepalang
bagaikan si bolang bocah petualang
di acara televisi kesukaannya

Kerupuk Kuah Sambal

Kerupuk Kuah Sate

Membuat Kerupuk

Bujang Belajar Silat


Bujang
Enam tahun umur mu sudah
Selagi kecil berusia muda
Ajar diri tempa jiwa
Agar dewasa bijak laksana

Anak bujang perlu berlasak
Lebih kacak kalau pandai berpencak
Aku ingin engkau belajar Silat Kuantan yang rancak
Di laman silat menghatur sembah kepada guru dan orang tua
Membuka langkah, langkah empat silat pusaka
Tapi di sini guru tiada

Ku hantar engkau ke perguruan
silat warisan berasas pada AlQur'an
berjiwa persaudaraan
di bawah naungan persyarikatan

Tapak Suci silat warisan
berasas As Sunnah
tampil sebagai seni dan ilmu pengetahuan
yang rasional dan ilmiah

dengan iman dan akhlak menjadi kuat
tanpa iman dan akhlak menjadi lemah
bersilat adalah ibadat
selamatkan akherat bahagiakan dunia

***

Sabtu, 02 Oktober 2010

Dreams from My Brother

Selembar kartu pos cetakan 1970an bergambar Grand Canyon National Park Arizona yang aku temukan di rak buku di rumah kami, sudah menarik perhatianku sejak kecil, mungkin sekitar kelas 3 – 4 SD. Sungguh pemandangan yang mengagumkan, pegunungan yang terpahat secara alami seluas mata memandang. Kartu pos itu merupakan souvenir dari The Voice of America (VOA) dan tersimpan bersama koleksi filateli Abang ketika dia SMP hingga SMA.



Pada tahun 1970an ketika Abang SMP dan SMA (bahkan hingga akhir 1980an dan 1990an ketika aku SMP dan SMA) mendengarkan Radio siaran asing seperti BBC, VOA, ABC dll adalah satu dari sedikit cara mengenal dunia dan belajar bahasa Inggeris dari native speaker di desa pinggir hutan dimana kami dibesarkan di pedalaman Sumatera. Mengandalkan radio SW (Short Wave) dan Battery “Cap Kucing” (karena tiada jaringan PLN) secara rutin mendengarkan radio sambil tiduran atau duduk di meja belajar di sela mengerjakan PR, sesekali menulis surat ke stasiun radio itu, mendapat kiriman program siaran, buku pelajaran bahasa Inggeris dan souvenir (berupa kartu pos, atau stiker), agar tak jadi “katak di bawah tempurung” sering sambil bermimpi keliling dunia “bagai pungguk rindukan bulan”.



Beberapa tahun kemudian, sekitar pertengahan tahun 1988 kami menerima kiriman surat dari Abang yang sedang studi post graduate di Amerika Serikat, terlampir beberapa foto dan salah satu adalah foto Abang berlatar belakang Grand Canyon! Surprised, sama dengan kartu pos yang ku kagumi itu.



Beberapa hari yang lalu, aku kembali menemukan Grand Canyon, kali ini di dinding facebook Abang, luar biasa! Dua puluh tahun kemudian Abang kembali ke Grand Canyon. Kali ini Abang kembali ke Grand Canyon bersama sang isteri tercinta.



Dan, ini lah aku, April 2015 menjejakkan kaki di sini, bukan di Grand Canyon - tetapi setidaknya di daratan yang sama dengan Grand Canyon.


Jauh sebelum membaca “Laskar Pelangi” dan “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata, aku sudah percaya dengan kekuatan mimpi. Bagi kami anak desa, dari keluarga yang sangat sederhana, mimpi adalah modal besar untuk meraih cita-cita. Alhamdulillah, sejak kecil hingga hari ini, Abang selalu menjadi inspirasi bagiku, bermimpi, berusaha dan berserah pada Yang Maha Kuasa.