Selasa, 09 Agustus 2011

My First Office



Tempat Kejadian Perkara: Desa Bukit Lipai;
Kecamatan Batang Cenaku; Kabupaten Inderagiri Hulu; Provinsi Riau(trust me! you can't find this place in map...)

Dalam hidup ini banyak mimpi kita yang diwujudkan oleh Tuhan, tapi kadang kita harus melalui jalan yang tak direncanakan.

Lebih setahun saya melalui hidup di sini, in the middle of no where, I started my career here as a field veterinarian, mix practices, serving rural smallholder farmers.

Walau pernah merasa banyak waktu yang terbuang di tempat ini, fasilitas yang sangat minim, karir yang tak jelas, penghasilan yang tak memuaskan, tapi dengan berjalan waktu, capaian-capaian saat ini, pada akhirnya menyadari bahwa banyak pengalaman berharga didapatkan disini.

Tempat ini menjadikan perjalanan karir saya sebagai dokter hewan terasa lengkap, dari PUSKESWAN sebagai baris terdepan pelayanan kesehatan hewan di lapangan hingga ke pusat National Veterinary Services.

Selasa, 23 November 2010

Kerupuk Kuah

balik kampung berhari raya
penghujung Ramadhan 1431 hijriah
menunjukkan kepada anak bujang dan dara
dua versi kerupuk kuah
kuah sate dan kuah sambal sama pedasnya

kepada mereka aku bercerita
inilah jajanan ayah
masa kanak-kanak bersekolah
Di SD lima Batu Gajah

membuat kerupuk pun mereka coba
hati senang alang kepalang
bagaikan si bolang bocah petualang
di acara televisi kesukaannya

Kerupuk Kuah Sambal

Kerupuk Kuah Sate

Membuat Kerupuk

Bujang Belajar Silat


Bujang
Enam tahun umur mu sudah
Selagi kecil berusia muda
Ajar diri tempa jiwa
Agar dewasa bijak laksana

Anak bujang perlu berlasak
Lebih kacak kalau pandai berpencak
Aku ingin engkau belajar Silat Kuantan yang rancak
Di laman silat menghatur sembah kepada guru dan orang tua
Membuka langkah, langkah empat silat pusaka
Tapi di sini guru tiada

Ku hantar engkau ke perguruan
silat warisan berasas pada AlQur'an
berjiwa persaudaraan
di bawah naungan persyarikatan

Tapak Suci silat warisan
berasas As Sunnah
tampil sebagai seni dan ilmu pengetahuan
yang rasional dan ilmiah

dengan iman dan akhlak menjadi kuat
tanpa iman dan akhlak menjadi lemah
bersilat adalah ibadat
selamatkan akherat bahagiakan dunia

***

Sabtu, 02 Oktober 2010

Dreams from My Brother

Selembar kartu pos cetakan 1970an bergambar Grand Canyon National Park Arizona yang aku temukan di rak buku di rumah kami, sudah menarik perhatianku sejak kecil, mungkin sekitar kelas 3 – 4 SD. Sungguh pemandangan yang mengagumkan, pegunungan yang terpahat secara alami seluas mata memandang. Kartu pos itu merupakan souvenir dari The Voice of America (VOA) dan tersimpan bersama koleksi filateli Abang ketika dia SMP hingga SMA.



Pada tahun 1970an ketika Abang SMP dan SMA (bahkan hingga akhir 1980an dan 1990an ketika aku SMP dan SMA) mendengarkan Radio siaran asing seperti BBC, VOA, ABC dll adalah satu dari sedikit cara mengenal dunia dan belajar bahasa Inggeris dari native speaker di desa pinggir hutan dimana kami dibesarkan di pedalaman Sumatera. Mengandalkan radio SW (Short Wave) dan Battery “Cap Kucing” (karena tiada jaringan PLN) secara rutin mendengarkan radio sambil tiduran atau duduk di meja belajar di sela mengerjakan PR, sesekali menulis surat ke stasiun radio itu, mendapat kiriman program siaran, buku pelajaran bahasa Inggeris dan souvenir (berupa kartu pos, atau stiker), agar tak jadi “katak di bawah tempurung” sering sambil bermimpi keliling dunia “bagai pungguk rindukan bulan”.



Beberapa tahun kemudian, sekitar pertengahan tahun 1988 kami menerima kiriman surat dari Abang yang sedang studi post graduate di Amerika Serikat, terlampir beberapa foto dan salah satu adalah foto Abang berlatar belakang Grand Canyon! Surprised, sama dengan kartu pos yang ku kagumi itu.



Beberapa hari yang lalu, aku kembali menemukan Grand Canyon, kali ini di dinding facebook Abang, luar biasa! Dua puluh tahun kemudian Abang kembali ke Grand Canyon. Kali ini Abang kembali ke Grand Canyon bersama sang isteri tercinta.



Dan, ini lah aku, April 2015 menjejakkan kaki di sini, bukan di Grand Canyon - tetapi setidaknya di daratan yang sama dengan Grand Canyon.


Jauh sebelum membaca “Laskar Pelangi” dan “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata, aku sudah percaya dengan kekuatan mimpi. Bagi kami anak desa, dari keluarga yang sangat sederhana, mimpi adalah modal besar untuk meraih cita-cita. Alhamdulillah, sejak kecil hingga hari ini, Abang selalu menjadi inspirasi bagiku, bermimpi, berusaha dan berserah pada Yang Maha Kuasa.

Minggu, 14 Maret 2010

Sejarah Kebun Getah di kampung kami



Tanaman karet merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Riau. Dalam bahasa lokal karet di sebut getah, sama dengan nama yang digunakan di semenanjung Malaya. Bagi saya, menarik untuk mengenal sejarah perkebunan karet di Riau.

Perkembangan Perkebunan Karet tak dapat dipisahkan dari adanya krisis tembakau dan kopi yang menjadi komoditas andalan pemerintah kolonial Hindia Belanda, mendorong pemerintahan Hindia Belanda untuk membangun perkebunan karet. Pada tahun 1864, Perkebunan Karet mulai diperkenalkan dan dikembangkan di Indonesia, dengan pertama kali dibuka di daerah Pamanukan dan Ciasem (Jawa Barat) oleh Hofland perusahaan Belanda. Jenis tanaman karet yang ditanam di waktu itu adalah karet “rambung” (Ficus elastica). Dan karet jenis Hevea brasiliensis baru ditanam di Sumatera Timur, tahun 1902. Perkebunan Karet di Indonesia lebih berkembang setelah Netherlands Indies membuka pintu bagi para investor asing, terutama dari Inggris, Belanda dan Belgia serta Amerika. Seiring dengan itu, pemerintah Hindia Belanda untuk pertama kalinya memperkenalkan sistem perkebunan besar (modern) yang dibuka di daerah Indragiri pada 1893. Selanjutnya disusul oleh perkebunan perkebunan lainnya. Sehingga pada 1915, di seluruh Kepulauan Riau, Indragiri dan Kuantan terdapat 12 onderneming. Tanah-tanah erfpacht yang luas di Japura, Kelawat, Sungai Lala, Sungai Parit, Gading, Air Molek dan Sungai Sagu, kemudian dimanfaatkan untuk ditanami pohon karet.

Seiring dengan perkembangan permintaan karet-alam Dunia, terutama setelah adanya pengaruh “boom” harga karet-alam setelah PD II. Perkebunan karet yang dikelola oleh rakyat (perkebunan rakyat) sudah terlebih dahulu di kenal masyarakat Riau, bahkan jauh sebelum diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Petani mendapatkan benih atau bibit tanaman karet dari para jemaah haji yang singgah di Malaysia atau Singapura. Perantau Kuantan di Semenanjung Malaya juga dipercaya sebagai pembawa bibit karet. Sejarah mencatat orang Kuantan - Riau ramai yang merantau ke Semenanjung Malaya terutama akhir abad XIX dan awal abad XX, yang dikenal sebagai “poi ke Kolang”. Di semenanjung Malaya, sebagian perantau Kuantan ada yang berkebun Karet. Selain itu pedagang-pedagang Cina/ tauke (Malaysia dan Singapura) yang membeli produksi karet-rakyat, juga sering membawakan benih-benih karet untuk ditanam. Karena itu tanaman karet sudah merupakan bagian dari budaya kehidupan para petani di Riau. Selain didukung oleh kondisi alam, juga sistem pertanian-kebun bagi masyarakat Riau merupakan suatu bentuk adaptasi di bidang pertanian, karena cengkraman iklim dan kesuburan tanah di Riau yang tidak sebaik di Jawa yang sarat dengan intensifikasi tanaman pangan, maka subsektor perkebunan di Propinsi Riau melaju lebih cepat dibanding dengan sektor pertanian tanaman pangan.

Jadi budaya pertani-kebun yang mendasari kehidupan penduduk di Riau adalah kehidupan pertanian yang berpusat pada lahan kering. Sehingga tanaman-tanaman utama yang telah lama menjadi kesukaan dan setting budaya mereka adalah tanaman karet dan kelapa.

Sejarah perkembangan perkebunan karet Inderagiri didominasi oleh perusahaan perkebunan milik pemerintah kolonial ataupun swasta. Perkebunan Karet ini menjadi salah satu daya tarik perantau Jawa untuk migrasi ke Inderagiri dan bekerja di Perkebunan Karet (selain pertambangan minyak). Tidak heran daerah perkebunan Karet di Inderagiri terutama Airmolek dan sekitarnya bertumbuh menjadi daerah yang multietnik, dengan proporsi penduduk dari suku Jawa cukup besar, jauh sebelum pemerintah menyelenggarakan program transmigrasi. Jejak kejayaan Perkebunan Karet di daerah Airmolek pada masa lalu di antaranya adalah Rumah Sakit Plantagen, milik salah satu Perusahaan Karet pada masa itu. Terakhir saya melihat Rumah Sakit yang sudah menjadi bangunan kosong tak terawat pada tahun 2002. Mudah-mudahan bangunan RS itu masih eksis dan alangkah baiknya bila dikonservasi dan dijadikan benda cagar budaya.

Sementara itu di Kuantan, perkembangan Perkebunan Karet didominasi oleh Perkebunan Rakyat, dengan latar belakang sejarah seperti diuraikan di atas. Baru kemudian pada era 1990an perkebunan rakyat tersebut mendapat perhatian serius pengembangannya oleh pemerintah melalui program Small Holder Rubber Development Project (SRDP).

Tipikal Kebun Karet Rakyat Ekstensif Pra-SRDP


Mesin Penggiling Getah Untuk Mengolah Getah Keping...Klasik


Di olah dari http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/(5)soca-ikin sadikin-dampak pemb perkbn(1).pdf

Kamis, 25 Februari 2010

Sea World Club Maumere: Hotel tak Harus Mewah

Sea World Club adalah hotel dengan konsep resort tepi pantai (beachfront Hotel-Resort). Ada beberapa bungalow/ cottage bergaya bangunan tradisional Indonesia dengan lanskap tropis khas Flores. Berbagai tipe bungalow/ cottage tersedia untuk dipilih sesuai kebutuhan (dan kantong) yaitu Beachfront Suite Bungalow, Honeymoon Suite, Family Villa, Beachfront and Beachview Houses, Superior Cottage dan Garden Cottage. Bersama tiga teman lain, kami memilih Beachfront House, rumah panggung 2 kamar masing-masing twin share yang langsung berhadapan dengan laut dan bila malam ombak terhempas hingga ke tangga cottage, lumayan murah 400.000/ malam/ cottage sudah termasuk sarapan.

Sea World Club merupakan milik yayasan sosial YASPEM yang menjalankan beberapa kegiatan amal di Maumere. Pendiri YASPEM adalah seorang pensiunan pastur/ pater Bollen. Penghasilan dari Sea World digunakan untuk kegiatan amal yayasan. Pater Bollen sekarang tinggal di Sea World Club. Mungkin karena sang pater berasal dari Jerman, banyak turis yang datang berkebangsaan Jerman.

'Beachfront House', khas tropis


Beranda 'Beachfront House' untuk bersantai


Sea World Club terletak di teluk dengan pantai yang tenang sangat sempurna untuk berenang dan snorkelling atau scuba diving. Saya datang ke sana bukan untuk berlibur, tapi untuk bekerja. Tidak ada banyak waktu untuk bersenang-senang. Tapi duduk di teras cottage sambil menikmati deburan ombak dan sunsets sudah luar biasa nikmatnya.

Hanya beberapa langkah ke pantai


Sunset dapat dinikmati dari beranda


Open Air Restaurant berada di kompleks ini menyajikan masakan Indonesia dan Internasional. Tentu saja karena Maumere kaya akan hasil laut, makanan yang diandalkan adalah ikan bakar dan seafood. Pada malam tertentu, pengunjung dihibur oleh 'musik kampung' yang dibawakan oleh masyarakat sekitar.

Bangunan Open Air Restaurant


Interior Open Air Restaurant


Bangunan hotel, restoran dan front office serta furniture hampir semuanya terbuat dari kayu, bambu dan rotan. Bagi wisatawan lokal, Sea World Club mungkin jauh dari kesan mewah. Bahkan mungkin sangat sederhana. Tetapi kesan tropis yang ditampilkan berpadu dengan keindahan pantai dan alam bawah laut serta konsep amal (penghasilan untuk kegiatan amal/ charity) telah menjadikannya sangat populer dan ramai dukunjungi wisatawan asing, terutama Eropa. Suatu pelajaran bahwa kesuksesan menjual pariwisata tidak selalu bermodalkan kemewahan tetapi lebih kepada konsep, keunikan dan kualitas pelayanan.

Kredit Foto http://www.sea-world-club.com/

Depok: Belajar Sejarah di Mall

Margonda City atau lebih terkenal dengan Margo City adalah satu di antara Mall yang berdiri di Kota Depok, Jawa Barat. Seperti kota-kota lain di Indonesia, Mall seolah merupakan benda wajib yang harus ada, walau kadang menyebabkan pasar tradisional dan pedagang kecil tergusur.

Margo City: Koridor Pedestrian

Pembangunan Margo City menuai kritik tidak hanya karena persaingan peretail raksasa versus pasar tradisional, tetapi Mall ini didirikan di situs bersejarah kota Depok yaitu Rumah Tua Pondok Cina. Rumah Tua tersebut telah berdiri sejak abad ke-19 dan menjadi bukti suatu episode sejarah yang dilalui oleh kota Depok. Masih untung pembangunan Mall ini menyisakan sebagian bangunan, yaitu bagian Serambi Depan Rumah Tua itu, yang sekarang dijadikan bangunan komersial sebagai cafe dengan nama "the Old House Cafe".


Terlepas dari dosa yang dibuat Margo City, menyebabkan rusaknya keutuhan situs sejarah Depok, ada hal positif yang patut dicatat. Pertama tentu saja masih dipertahankannya bangunan bersejarah (walau hanya sebagian) dan penyediaan panel informasi tentang bangunan bersejarah Rumah Tua Pondok Cina serta panel lainnya tentang Sejarah Depok Lama dan Peninggalan Sejarahnya. Panel tersebut menempati panel reklame outdoor yang berjejer di koridor untuk pejalan kaki (pedestrian).


Rumah Tua Pondok Cina
Rumah Tua Pondok Cina



Panel Informasi Rumah Tua Pondok Cina
Panel Informasi Rumah Tua Pondok Cina


Panel Informasi Sejarah Depok Lama
Panel Informasi Sejarah Depok Lama

Sebagai blogger, saya sangat terkesan dengan Panel Informasi Sejarah Depok Lama. Informasi yang ditampilkan bersumber dari blognya Hans Soedira yaitu salah satu blogger Kota Depok dengan alamat www.goblogk.blogspot.com. Tentu ini membanggakan kita para blogger.


Saya pikir hal semacam ini bisa ditiru oleh Kota Pekanbaru, menyediakan Panel Informasi di Mall tentang sejarah awal Kota Pekanbaru; informasi sejarah era Payung Sekaki, Senapelan, hingga menjadi Pekanbaru. Mungkin Blogger Pekanbaru bisa menginisiasi hal ini dengan Pengusaha Mall atau Pemerintah Kota, hitung-hitung Kopi Darat, tidak hanya bermain di alam maya.