Minggu, 02 September 2012
Kota Bersejarah Wageningen
Selasa, 28 Agustus 2012
Pecel Lele Belanda
Kamis, 23 Agustus 2012
Idul Fitri @ Maastricht
Senin, 13 Agustus 2012
Nagari Taram
Aku mengalami deja vu, ada perasaan pernah datang ke sini seperempat abad yang lalu...
.
Aku mengenal "Nagari Taram" sejak masih teramat kecil, dari buku Bapak, kalau tidak salah judulnya "Sosiologi Pedesaan" karya Prof. Sayogya, lebih dari 25 tahun yang lalu. Buku itu banyak menjelaskan tentang konsep desa tatanan sosial pedesaan di Indonesia, salah satunya adalah Nagari yaitu desa dan tatanan sosial pedesaan Minang Kabau, dan sebagai studi kasus yang dijelaskan oleh Prof. Sayogya adalah Nagari Taram di Luhak Lima Puluh Kota - Sumatera Barat. Agak geli juga mengingat waktu aku sekecil itu melahap buku seberat sosiologi pedesaan
.
Tahun lalu kantor menugaskan ke Kabupaten Lima Puluh Kota. Dan tak disangka ternyata salah satu agenda yang disiapkan kolega di Kabupaten adalah kunjungan lapangan ke Nagari Taram. Here I am.....
Minggu, 08 Juli 2012
Nongkrong di Indische Koffie
Sejak masa saya kuliah dulu, Jogja di bulan Juni selalu sibuk dengan Festival Kesenian Yogyakarta, FKY, yang dipusatkan di Benteng Vredeburg. Juni lalu saya harus menunggu cukup lama untuk terbang kembali ke Jakarta. Penyebabnya adalah short notice dari kantor untuk memperpanjang tinggal di Yogya untuk mengikuti pertemuan lain, sudah tidak leluasa memilih penerbangan.
Niat awalnya hanya ingin mengunjungi museum dan pameran seni di Benteng Vredeburg, seperti dulu saya sering melakukannya ketika bulan Juni, di sela-sela ujian semester, sendirian, juga seperti yang dulu saya lakukan. Namun ketika memasuki gerbang benteng, sebuah kafe berlabel "Indische Koffie" di pojok bangunan bahagian depan menarik perhatian saya. Seingat saya, dulu tidak ada kafe di museum ini. Setelah saya cek pada pelayan kafe, ternyata memang kafe ini baru saja grand opening.
Menurut saya, kerjasama museum dengan pengusaha mengelola kafe bergaya Indisch seperti Indische Koffie ini, membuat museum jadi lebih menarik. Pengunjung tidak saja melihat-lihat koleksi museum, tapi juga bisa merasakan atmosfer masa kolonial di kafe, sambil rehat setelah berkeliling museum.
Jumat, 06 Juli 2012
Solo Nightlife
Tapi Nightlife a la Solo yang saya maksud adalah menghabiskan malam dengan wedangan di HIK yang banyak tersebar di kota Solo. Wedangan adalah bahasa Jawa untuk minum-minum minuman panas (kopi, teh, jahe dll). Sedangkan HIK adalah warung gerobak kaki lima yang merupakan singkatan dari "hidangan istimewa a la kampung" atau kadang HIK juga disebut wedangan. Gerobag biasa ditutupi dengan kain terpal plastik dan bisa memuat sekitar 8 orang pembeli. Beroperasi mulai sore hari, mengandalkan penerangan tradisional yaitu senthir, dan juga dibantu oleh terangnya lampu jalan.
Wedangan yang direkomendasikan oleh seorang teman adalah HICK GAUL PAK MUL. Untuk itu, harus mengendara ke luar kota ke arah Tawang Mangu tepatnya di Karang Anyar. Masih dengan gaya HIK atau Wedangan Solo, tetapi dengan kata GAUL pada labelnya, menunjukkan bahwa Pak Mul si pemilik HIK melakukan improvisasi walaupun tidak terlalu melenceng dari pakem HIK. Bila di HIK umumnya menghidangkan Wedang Jahe (Jahe Hangat)atau Wedang Jahe Susu, Pak Mul punya beberapa varian Jahe, saya memilih OBH yaitu wedang jahe yang dicampur kencur dan perasan jeruk nipis dan gula batu sebagai pemanis.
Pak Mul juga sangat kreatif membuat istilah lucu untuk nama makanan/ minuman dan prosedur di warungnya. Seperti "Nasi Manten Anyar" untuk Nasi Tumpang - tumpang dalam bahasa Jawa dapat berarti tindih (menindih). Ada pula "Sayur Ganja" singkatan dari garang asem jamur. Ada lagi "Nasi Cucu Ikan Paus" untuk sebutan nasi kucing dengan lauk ikan teri. Seperti umumnya warung HIK, penjual biasa menawari untuk menambahkan minuman di gelas pelanggan yang hampir kosong. Dalam bahasa Jawa prosedur ini adalah dijokki, oleh Pak Mul diplesetkan menjadi Supir Jaran, karena Jokki memang terdengar sama dengan Joki. Sungguh menyenangkan menghabiskan malam di HIK Pak Mul, sambil menghabiskan malam ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman, diselingi humor Pak Mul yang mengocok perut.
<>







